Kodim Kediri Sukseskan Program Ketahanan Pangan Lewat Pelatihan Pertanian

aangkediri, 30 Apr 2019,
Share w.App T.Me

Kediri. Dinas Pertanian Kabupaten Kediri bekerjasama dengan Kodim Kediri mengadakan pelatihan tanam padi dan jagung. Pelatihan tersebut diadakan di dua tempat, tanam jagung di Desa Kayen Lor dan tanam padi di Desa Sukoharjo, kedua desa tersebut berada di Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. selasa (30/4/2019)

Danramil Plemahan Kapten Arh Ajir dalam penjelasannya, lahan yang digunakan untuk pelatihan tersebut berstatus milik warga setempat, dan dalam penggunaannya sendiri sudah seijin si pemilik. Lahan seluas 1 bahu atau 7.000 meter persegi di Desa Sukoharjo berstatus milik Wagino, dan lahan seluas 0,5 bahu atau 3.500 meter persegi di Desa Kayen Lor berstatus milik Nur Rokim.

Penggunaan lahan di Desa Sukoharjo maupun di Desa Kayen Lor untuk pelatihan tersebut, disesuaikan fungsi tanam dari si pemilik lahan. Sedangkan pengadaan bibit, pupuk maupun alsintan (alat mesin pertanian) berasal dari Dinas Pertanian Kabupaten Kediri.

Sebagaimana diutarakan Joko Tri Raharjo, KJFP (Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh) Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, pelatihan ini diadakan atas kerjasama Dinas Pertanian Kabupaten Kediri dengan Kodim Kediri. Pelatihan diadakan tidak lepas dari upaya mensukseskan program ketahanan pangan, khususnya pendampingan Babinsa dengan petani ditiap-tiap desa.

“Dinas Pertanian Kabupaten Kediri bekerjasama dengan Kodim Kediri mengadakan pelatihan tanam padi dan jagung. Pelatihan  ini diadakan dalam rangka mensukseskan program ketahanan pangan di Kabupaten Kediri,” jelasnya.

Dikatakannya, pelatihan ini diadakan sehari dan diikuti 125 personil Koramil jajaran Kodim Kediri. Dalam praktek dilapangan, Dinas Pertanian Kabupaten Kediri menurunkan orang-orang yang berkompeten dibidangnya, dari penggunaan alsintan, pemilihan bibit berkualitas, teori tanam padi, holtikultura maupun jagung, hingga teknik hingga takaran pupuk.

“Pelatihan ini diikuti 125 orang dan kita dari Dinas Pertanian menerjunkan orang-orang sesuai bidangnya. Kita disini menyampaikan teori secara benar dan tepat, dari tanam, pemakaian alsintan sampai pupuk,” sambungnya.

Tanam padi di Desa Sukoharjo, dilakukan secara manual alias tanpa penggunaan alsintan. Saat praktek, bibit padi ditanam serempak dari arah yang sama. Tanam serempak tersebut dilakukan secara bergelombang dan tiap gelombang diikuti 25 orang.

Sementara itu, Suyitno, koordinator PPL Kecamatan Plemahan menjelaskan, tanam holtikultura yang tepat di polyback. Baik dari takaran tanah, pupuk, kandungan air hingga kedalaman akar bibit, dijelaskan satu persatu secara berurutan. Penggunaan polyback hanya khusus untuk lahan minimalis atau pekarangan rumah yang tidak luas.

Takaran pupuk tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Demikian juga penyiraman bibit yang sudah tertanam di polyback. Terkait komposisi pupuk, tergantung jenis holtikultura alias berbeda-beda takarannya.

“Untuk teori kali ini, kita menggunakan pupuk kompos, karena di desa-desa, banyak potensi bahan untuk pupuk ini. Hampir tiap desa di Kediri ini punya peliharaan sapi. Dari sinilah kita memanfaatkan,” jelas Suyitno.

Usai teori dan praktek cara tanam holtikultura dengan menggunakan polyback, pelatihan berlanjut dengan teori tanam jagung. Untuk tanam jagung ini, ada dua cara, yang pertama menggunakan alat modern dan yang kedua menggunakan alat tradisional.

“Dari kedua cara yang kita lakukan, kita bisa tarik kesimpulan, lebih cepat yang mana, lebih praktis yang mana. Kedua cara ini semua masih relevan dilakukan,” jelas Syamsul Hidayah, Kasi holtikultura Dinas Pertanian  Kabupaten Kediri

Dijelaskannya, untuk tanam jagung menggunakan alat modern, pilihan jatuh pada transplenter tanpa penggerak mesin alias tenaga dorong manusia.

Alat ini bisa memasukkan bibit jagung, sekaligus menutupnya dengan tanah. Logam berbentuk kerucut akan terbuka dan tertutup secara otomatis, lantaran ada kawat berukuran cukup tebal yang mendorong atau membuka katup logam tersebut. Dengan terbukanya katup, jagung akan jatuh dengan sendirinya ketanah dan ketika kawat terlewati, katup akan menghujam tanah dan mendorong tanah disekitarnya untuk menutup bibit yang sudah tertanam.

Untuk tanam jagung menggunakan alat tradisional, cukup memakai kayu yang ujungnya lancip. Kayu tersebut dihujamkan ketanah dan otomatis akan terbentuk lobang. Dari lobang inilah, bibit dimasukkan secara manual dan ditutup dengan tangan. Namun, sebelum ditutup, terlebih dahulu dimasukkan pupuk kompos sebagai pemicu pertumbuhan bibit.

Khusus untuk teori tanam holtikultura, lebih difokuskan pada tanam dasar, dan dilakukan di Desa Kayen Lor, bersamaan dengan teori tanam jagung. Sedangkan tanam padi dan jagung, lebih difokuskan bagaimana tanaman tersebut bisa tumbuh secara normal sesuai jarak antar bibit dan kedalaman tanah. (aang)

 

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu