Mewaspadai Era Post Truth

INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - DATA Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 menyebutkan jumlah penduduk Indonesia saat ini 264 juta jiwa. Sementara data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut dari jumlah penduduk 264 juta jiwa  itu, ada 142 juta pada 2017 atau sekitar 150 juta orang pada 2018 merupakan pengguna internet.

Celakanya, dari 150 juta orang pengguna internet ini, 70 persen diantaranya (90 juta orang) tidak mengerti tata etika alias aturan bermain di dunia maya. Mereka tidak mengerti bahwa jagat maya itu sudah seperti hutan belantara yang penuh ancaman dan jebakan. Kalau tidak bijak, tidak pandai membangun diri, tidak bisa mengontrol diri sendiri, maka akan tersesat.

Boro-boro pula ke 90 juta-an orang itu memahami regulasi seperti adanya UU Informasi dan Transaksi Elekronika (ITE) yang ancaman pasal-pasalnya bikin berdiri bulu roma.

Kondisi inilah yang kemudian membuat lalu-lintas internet kita dibanjiri dengan berita-berita hoax termasuk variannya seperti fake news (berita palsu), hate speach (ujaran kebencian), juga defamation (penghinaan, pencemaran nama baik, fitnah), dan lain sebagainya.

Jika semua yang tersesat di dunia maya ini kemudian diproses secara hukum, pastinya akan membuat luber isi penjara negeri ini yang juumlahnya hanya 512 unit itu.

Ya, kemajuan teknologi sekarang ini telah membuat kita melampau era reformasi, dan melempar kita sekarang berada di era post truth. Yaitu satu zaman yang menurut kamus Oxford didefinisikan sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal.

Kondisi ini dulunya memang populer dalam  dua momen politik paling berpengaruh pada 2016, yaitu saat Inggris Raya keluar dari Uni Eropa dan terpilihnya Dinald Trump sebagai Presiden AS. Ketika itu, informasi-informasi hoax punya pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang fakta yang sebenarnya.

Selain ditandai dengan merebaknya berita hoax di media sosial, era post-truth juga ditandai dengan kebimbangan media dan jurnalisme khususnya dalam menghadapi pernyataan-pernyataan bohong dari para politisi.

Kasus selama pemilu presiden Amerika 2016 lalu menjadi bukti bahwa semakin sering media menyiarkan berita-berita bohong soal Donald Trump, hal itu justru membuat nama Trump semakin populer dan kebohongan-kebohongannya tersebar semakin luas.

Seperti diketahui,  Donald Trump adalah sosok politisi yang suka melempar berita bohong dan klaim-klaim sepihak yang tidak didukung bukti. Kondisi tersebut boleh dibilang mirip dengan keadaan Indonesia saat ini, dimana berita-berita hoax setiap hari bisa ditemukan dan tak pernah berhenti diproduksi masyarakat.

Padahal, keadaan seperti ini akan sangat berbahaya ketika diamplifikasi oleh  media sosial hingga membuat banyak orang percaya. Dengan perkataan lain semakin banyak berita hoax diproduksi dan disebarkan, akan semakin banyak penerimanya dan semakin banyak yang percaya.

Untuk menghadapi situasi semacam itu, New York Times sempat merancang metode yang tepat untuk melakukan pemeriksaan fakta atas setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh Trump.

Salah satu yang pernah dicoba di edisi korannya adalah memberikan langsung keterangan bahwa pernyataan-pernyataan tertentu yang disampaikan Trump adalah hoax. Hal ini dilakukan agar pembaca tahu kondisi yang sebenarnya sehingga tidak tertipu.

Belum lama pihak Kominfo sebetulnya sempat juga  melakukan hal sejenis, dengan menandai sebuah berita terkait kegiatan relawan yang tengah menggotong-gotong korban bencana yang disebutkan terjadi di Palu.

Namun dalam keterangan Kominfo, gambar yang dipasang adalah gambar saat relawan membantu korban tanah longsor di daerah Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Sayangnya kegiatan bagus Kominfo ini nyaris tak lagi terdengar meskipun lembaga pemerintah itu memiliki peralatan mahal yang mampu mendeteksi sebuah informasi hoax atau tidak.

Karena di Indonesia, kondisi relatif serupa sedang terjadi saat ini. Tentu ini butuh langkah serius agar kita tidak terbawa arus post-truth. []

Oleh Maghfur Ghazali

 

 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita