Serba Serbi Ritual Satu Suro Di Pamoksan Raja Khadiri

aangkediri, 01 Sep 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

KEDIRI. Keterkenalan Kerajaan Kadhiri tidak lepas dari kemasyuran pemimpinnya, karena tidak dapat disangkal seorang raja berkat kekuasaannya mampu mempunyai peranan penting, dan ikut menentukan kehidupan rakyatnya.

Berdasarkan bukti sejarah berbentuk tulisan kuno atau prasasti, raja yang memerintah Khadiri, dan paling berpengaruh adalah Sri Aji Jayabaya. Dari cerita masyarakat, meyakini Raja Khadiri tidak meninggal, melainkan mukso atau menyatu dengan alam.

Sri Aji Jayabaya memerintah hingga mencapai masa keemasan, yaitu tahun 1135 M hingga 1143 M. Oleh karena itu, setiap tahun diadakan upacara ritual satu suro di petilasan Sri Aji Jayabaya, untuk mengenang kebesarannya.

Dari keterangan Babinsa Menang, Sertu Andik, animo masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan kirab ini, selain warga Kediri, warga dari Blitar, Jombang, Nganjuk, Tulungagung, Malang, serta diluar Jawa Timur mengikuti maupun menyaksikan momen sakral tahunan ini (sabtu (31/8/2019).

Dijelaskan, Mbah Suratin, juru kunci petilasan Sri Aji Jayabaya, secara rutin para sesepuh, pinisepuh, dan ajisepuh bersama Yayasan Hondodento dari Yogyakarta mengadakan kirab satu suro. Peserta ritual satu suro diarak mulai balai Desa Menang ke tempat pamoksan Sri Aji Jayabaya, kemudian finish di Sendang Tirta Kamandanu.

Peserta kirab tersebut, sebagian berasal dari warga Desa Menang dan sekitarnya, serta perwakilan Hondodento dari Yogyakarta. Yang membawa bokor bunga, dan caos dhahar, syaratnya perawan masih kecil atau suci atau belum haid sejumlah 16 anak, sedangkan lainnya, perawan yang sedang tidak berhalangan atau haid.

Dikatakan Mbah Suratin, karya besar Sri Aji Jayabaya adalah Jongko Jayabaya, yang diyakini banyak orang, bisa melihat dimensi 1000 tahun yang akan datang, dan masih berlaku sampai 2100 M.

Menurut Adi Wahyono, budayawan asal Desa Menang, mulai kirab dilakukan sudah ada patokan momen sakral ini. Kirab dibuka dengan 5 cucuk klampah putri, dan kebaya merah digunakan sebagai simbol keberanian masyarakat Khadiri jaman dulu, serta pemimpinnya dalam menghadapi segala tantangan.

Selain itu, ada pantangan disini, seperti pantang menggunakan ageman (pakaian) batik parang, dan saat upacara memasuki areal petilasan, semua wajib menggunakan ageman adat. Upacara ritual dilaksanakan di tengah keheningan dengan membakar sesaji maupun penaburan bunga.

“Petilasan pamoksan Sri Aji Joyoboyo merupakan warisan budaya leluhur yang adi luhung, dan salah satu kekayaan budaya bangsa,” kata Adi.

Lokasi finish kirab ini, diceritakan Mbah Suratin, sendang Tirta Kamandanu adalah awal dari sejarah Kerajaan Khadiri yang selalu dilestarikan. Tapi kalau dinilai, sendang Tirto Kamandanu dengan Sri Aji Jayabaya, tua sendang Tirta Kamandanu.

“Sebelum Sri Aji Jayabaya ada, sendang tersebut sudah ada, hanya saja belum difungsikan, dan setelah Sri Aji Jayabaya ada, difungsikan sebagai tempat semedi. Air di sendang ini merupakan air yang selalu dikeramatkan, tidak bisa dipisahkan dengan sejarah masa lalu,” jelas Mbah Suratin.

Lanjutnya, segala peninggalan jaman dulu, selalu berkaitan dengan keberadaan air. Sumber atau sungai selalu terikat dengan keberadaan istana atau keraton atau kerajaan. Sendang Tirta Kamandanu dulunya disebut Sendang Buntung, sedangkan arti sendang adalah air, dan kamandanu adalah penghidupan.

“Upacara ini dilakukan untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena leluhur kita mewariskan budaya, tata krama, sopan santun dan pengetahuan. Kirab 1 Suro ini pertama kalinya diadakan Tahun 1974, atas prakarsa keluarga besar Hondodento dari Yogyakarta,” pungkas Mbah Suratin. (aang)

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu