Susunan Batu Bata Kuno Di Desa Karangtengah Kediri Diduga Bagian Bangunan Candi

aangkediri, 03 Jul 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

KEDIRI. Warga Dusun Wangkalkerep, Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, dihebohkan atas penemuan batu bata kuno yang tersusun di lahan milik Komsin. Temuan itu sendiri langsung direspon tim Damar Panuluh, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.

Tidak hanya menarik perhatian warga setempat, temuan tersebut juga membuat Danramil Kandangan Kapten Chb Mulyono datang ke lokasi tersebut untuk melihat langsung keberadaan batu bata yang diduga bagian dari bangunan candi. rabu (3/7/2019).

Menurut keterangan di lokasi, BPCB Trowulan sampai hari ini masih belum memastikan atau menetapkan hasil temuan batu bata kuno yang tersusun yang diduga merupakan bagian dari bangunan candi itu.

Untuk mengetahui lebih jauh, Kapten Chb Mulyono menemui salah satu tim Damar Panuluh, Rianto, yang berada di lokasi.

“Bagaimanapun inikan peninggalan nenek moyang, jadi tetap kita bahasa jawanya nguri-nguri, kita usah memandang apa-apa, tapi yang jelas dulunya ini adalah berasal dari garis keturunan kita,” kata Kapten Chb Mulyono.

Sambil menimang-menimang sebongkah batu bata kuno berukuran besar. Rianto bertanya,“Ini arahnya kalau dari segi pengamanan bagaimana cara penanganannya ?”

“Jadi, kita tetap lakukan pengamanan dilokasi ini, ada Babinsa disini, nanti bekerjasama dengan Babinkamtibmas, agar tidak dirusak. Kalau pengawasan, kita kerjasama dengan yang ada disini,” jelas Kapten Chb Mulyono.

Kedepannya, dengan adanya penemuan batu bata kuno yang tersusun, dan diduga adalah bagian dari bangunan candi, sebagai bagian dari budaya bangsa kita. Diharapkan, setelah penemuan tersebut terkuak secara keseluruhan, akan mengetahui secara jelas riwayat atau sejarah terkait bangunan itu.

“Dulu, nusantara ini dibagi banyak kerajaan, tetapi semua kerajaan itu pernah disatukan. Lha yang disini ini masuk kerajaan mana, tahun berapa, terus dimasa siapa yang memerintah, nanti bisa kita ketahui,” sambungnya.

Pernyataan tersebut direspon Rianto, ia berharap segera ada tindak lanjut dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan maupun pihak BPCB Trowulan atas temuan di Desa Karangtengah ini.

Tindak lanjut itu nantinya akan menjelaskan kepada masyarakat atas temuan tersebut, sehingga tidak lagi menimbulkan pertanyaan benar tidaknya itu adalah bangunan candi, kalau benar berasal dari kerajaan mana, dimasa pemerintahan siapa, serta tahun berapa bangunan itu sudah ada.

Dari hasil pengukuran secara random, ukuran batu bata kuno tersebut bervariasi, dengan ketebalan 8 hingga 9 centimeter, lebar 22 hingga 23 centimeter, dan panjang 38 hingga 39 centimeter.

Berdasarkan ukuran batu bata, dan temuan sebelumnya ditempat berbeda, BPCB Trowulan menyampaikan keterangan sementara yang masih bersifat dugaan, bahwa batu bata di Desa Karangtengah tersebut mengarah pada masa Kerajaan jaman dulu.

“Dengan adanya temuan yang sangat luar biasa ini, diharapkan ada penjelasan lebih dari sejarah Kerajaan Kediri atau Majapahit,” ujar Rianto.

Berdasarkan pengetahuannya, batu bata kuno itu sangat kuat dugaannya adalah bangunan candi, bahkan ia secara probadi mengklaim batu bata itu benar-benar bagian candi.

“Ini batu bata dibagian luar, terlihat dari bentuknya, biasanya ini ada disisi luar. Kalau dibelakangnya ini biasanya bagian dalam, karena bentuk trapnya ini sudah ketemu. Ukuran trapnya bisa 2 centi, 3 centi, dan trapnya bisa 3 trap, ini menandakan bangunan ada di areal luar” jelas Rianto.

Ia juga menunjukkan tumpukan batu bata yang menyerupai reruntuhan disamping susunan trap. Kendati diatasnya batu bata terlihat berantakan, dibagian bawahnya justru batu bata masih tersusun rapi, dan masih rekat.

Dilihat dari susunan batu bata, menunjukkan bagian bangunan masih lebih dalam lagi dari permukaan yang sudah digali saat ini. Berdasarkan perkiraan Rianto, kedalaman bangunan yang masih belum tergali mencapai 2,5 meter hingga 3 meter.

“Jadi mengarahnya ke bangunan candi, diduga ini candi. Kemungkinan ini luas sekali, lebih besar lagi dari temuan Punthuk Gong. Ketebalannya, besarnya batu bata ini melebihi dari temuan di Punthuk Gong,” sambungnya.

Ia berharap, tempat-tempat bersejarah seperti candi, bisa bermanfaat bagi warga sekitar secara ekonomi, dari menjadi pedagang kecil-kecilan di lokasi, tukang parkir maupun pemandu wisata, sekaligus memberi dampak positif ke desa. Selain itu, diharapkan kejelasan keberadaan temuan batu bata yang diduga candi itu akan membuka sejarah peradaban masa lalu.

Beberapa batu bata ada yang sudah terlihat bentuk reliefnya, dan besar kemungkinan batu bata itu benar-benar bagian dari candi.

Terkait penggalian, Rianto mengaku cukup berat, lantaran dibutuhkan tenaga yang lebih banyak untuk bisa menggali lebih dalam susunan batu bata yang saat ini masih tertutup tanah.

“Kami dari Damar Panuluh, sejak pagi tadi sampai sekarang, selalu berusaha melakukan penyelamatan benda-benda purbakala, cagar budaya, bersejarah. Tujuan kita ingin membuktikan bahwa dulu pernah ada peradaban disini, di Kediri ini,” jelasnya.

“Ini bukan sebuah cerita, bukan dongeng rakyat, ini riil, ini ada, bisa dibuktikan. Ini sebuah pembuktian, sebuah kenyataan bahwa peninggalannya ada, dan bisa kita lihat bersama-sama,” pungkasnya.

Mengamati salah satu bongkahan batu bata kuno tersebut, Kapten Chb Mulyono meyakini bahwa batu bata itu berasal dari masa lampau, dan kemungkinan besar dibuat dimasa kerajaan-kerajaan yang ada disekitar Kediri.

Benar tidaknya kepastian temuan tersebut adalah bagian dari bangunan candi, nantinya tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan yang akan memastikannya. (aang)

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu